Suara yang Terpendam: Mengapa Orang Hebat Seringkali "Kalah" di Media Sosial?


Pernahkah kamu merasa sudah memberikan segalanya, memberikan kualitas terbaik dalam sunyi, namun dunia seolah belum mau menoleh? Di balik megahnya panggung media sosial hari ini, selalu ada narasi yang jarang diceritakan: narasi tentang mereka yang sangat kompeten, namun memilih untuk tetap tidak terlihat.

Beberapa waktu lalu, saat mengadakan edisi perdana Workshop Online Inbound Content Strategy + AI, saya mendapatkan sebuah "tamparan" yang menyadarkan saya.

Di ruang virtual itu, saya bertemu dengan para peserta yang bukan sembarang orang. Ada seorang peneliti yang menghabiskan bertahun-tahun melakukan riset di Jepang dan Inggris. Ada pebisnis yang merendah dengan sebutan "UKM", padahal omzetnya sudah menembus angka belasan miliar setiap bulan. Ada pula profesional yang setiap harinya mengawal strategi perusahaan multinasional.

Di sana, sebuah realita menghantam saya dengan keras: Dunia digital kita penuh dengan orang-orang hebat, tapi sayangnya, mayoritas dari mereka tetap tidak terlihat.

Paradoks Kepercayaan Diri: Mengapa yang Pintar Justru Ragu?

Kita sering melihat feed yang ramai, tapi jujur saja, bukan selalu mereka yang paling kompeten yang muncul di permukaan. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah fakta psikologis yang disebut Dunning–Kruger Effect.

Secara ilmiah, ada sebuah ironi: mereka yang kompetensinya masih rendah seringkali memiliki kepercayaan diri yang meluap. Sebaliknya, mereka yang memiliki kedalaman ilmu justru sering diliputi keraguan. Mereka merasa apa yang mereka tahu adalah hal "standar", takut dicap sok tahu, atau merasa belum cukup sempurna untuk bicara.

Masalahnya, algoritma media sosial tidak memiliki sensor untuk mengukur kedalaman otak seseorang. Seperti yang dijelaskan dalam riset Networked Publics oleh Danah Boyd, visibilitas di media sosial bukan lahir dari kualitas semata, melainkan kemampuan kita beradaptasi dengan aturan main platform.

Algoritma tidak pernah bertanya, "Siapa yang paling pintar?" Ia hanya bertanya: "Siapa yang paling konsisten dan mampu relevan dengan audiensnya?"

Ketika Kualitas Menjadi "Sinyal yang Lemah"

Banyak orang hebat "kalah start" karena mereka terlalu sibuk membangun (building) tapi lupa menyiarkan (broadcasting). Mereka percaya bahwa kualitas akan terlihat dengan sendirinya. Sayangnya, di tengah kebisingan informasi, kualitas tanpa visibilitas ibarat perpustakaan megah di tengah hutan rimba; sangat berharga, tapi tak ada yang tahu jalan ke sana.

Akibatnya? Value besar, visibility kecil. Pengetahuan mahal itu hanya hidup dan berputar di kepala mereka sendiri.

Media Sosial Bukan Panggung Ego, Tapi Jembatan Dampak

Kita perlu mengubah cara pandang kita. Konten di media sosial bukanlah tentang pamer atau mencari viralitas kosong. Secara ilmiah, melalui Mere Exposure Effect, kepercayaan (trust) dibangun lewat kehadiran yang konsisten. Semakin sering orang melihat nilai yang kamu bagikan, semakin tinggi rasa familiar dan kepercayaan mereka padamu.

Ini bukan soal pamer kekuatan, tapi soal menerjemahkan nilai (value) agar:

  1. Orang lain paham.

  2. Kepercayaan terbentuk.

  3. Peluang datang secara natural.

Sudah saatnya orang-orang hebat sepertimu berani naik ke permukaan. Bukan untuk mencari validasi atau tepuk tangan, melainkan untuk memastikan bahwa solusi yang kamu miliki sampai ke tangan mereka yang membutuhkan.

Jangan biarkan nilai berhargamu hanya menjadi potensi terpendam. Ubahlah ia menjadi sinyal yang kuat bagi dunia.

Sebab, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang sekadar "berisik". Dunia butuh orang hebat yang berani bersuara.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url