Tentang Rasa yang Belajar Diam

 


Ada perasaan yang tidak datang untuk dimenangkan. Ia hadir sekadar untuk dikenali, lalu belajar menepi dengan sendirinya. Tidak gaduh, tidak menuntut, hanya sesekali muncul sebagai pengingat bahwa manusia tetap bisa merasa, bahkan ketika ia memilih untuk tidak bergerak ke mana-mana.

Rasa seperti ini sering lahir dari jarak. Dari kekaguman yang tidak pernah diberi nama. Dari seseorang yang dulu hanya ada di pinggir hari-hari kita, lalu suatu waktu kembali hadir bukan sebagai kemungkinan, melainkan sebagai kenyataan yang sudah utuh.

Di titik ini, hidup masing-masing sudah berjalan. Ada pilihan yang telah diambil, ada komitmen yang tidak perlu dipertanyakan. Maka perasaan pun berubah fungsi. Ia tidak lagi ingin dikejar, hanya ingin dipahami.

Tahun-tahun terakhir mengajarkan satu hal penting: tidak semua kedekatan harus diartikan sebagai peluang. Kadang ia hanya sebentuk pertemuan singkat, cukup untuk mengingatkan bahwa kita pernah muda, pernah kagum, pernah menyimpan sesuatu tanpa perlu mengatakannya keras-keras.

Di era sekarang ketika komunikasi terasa begitu mudah justru menahan diri menjadi bentuk kedewasaan yang paling nyata. Menyadari kapan harus hadir, dan lebih penting lagi, kapan harus berhenti melangkah.

Ada kehangatan yang tetap bisa dijaga tanpa melampaui batas. Sapaan yang wajar. Perhatian yang tahu diri. Semua dilakukan bukan karena kurang keberanian, tetapi karena cukup menghargai keadaan.

Rasa yang tidak diwujudkan sering kali disalahpahami sebagai kegagalan. Padahal, ia bisa jadi adalah keputusan paling dewasa yang pernah diambil seseorang. Tidak semua yang terasa harus diwujudkan. Tidak semua yang bermakna harus dimiliki.

Seiring waktu, perasaan seperti ini biasanya akan mengecil dengan sendirinya. Bukan karena dipaksa hilang, melainkan karena telah selesai menjalankan perannya. Ia mengajarkan tentang kendali diri, tentang empati, tentang bagaimana menghormati hidup orang lain tanpa meniadakan kejujuran pada diri sendiri.

Dan ketika suatu hari rasa itu benar-benar tenang, yang tersisa bukan penyesalan. Hanya pemahaman bahwa pernah ada sesuatu yang hadir secara singkat, lalu pergi dengan sopan.
Itu sudah lebih dari cukup.

Catatan Kecil:
Beberapa hal memang tidak perlu disimpulkan. Cukup dicatat, lalu dibiarkan menjadi bagian dari perjalanan.
Jika tulisan ini terasa seperti cermin, mungkin memang begitu. Tidak semua yang kita simpan ingin dibicarakan. Sebagian hanya ingin dimengerti, lalu dilepaskan perlahan.

Ditulis sebagai pengingat,
bahwa memilih menepi juga merupakan bentuk keberanian.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url