Ilusi UMKM: Ketika "Miskin Melayani Miskin" Dianggap Prestasi

 


Coba tengok ke luar jendela. Di tikungan gang, di depan pagar rumah, hingga di trotoar jalan protokol. Apa yang Anda lihat?

Bukan pabrik yang mengepulkan asap produksi, bukan pula kantor yang sibuk dengan inovasi. Yang kita lihat adalah barisan gerobak: bakso, mie ayam, seblak, gorengan, hingga batagor. Kota besar maupun kota kecil sama saja. Toko-toko ritel berguguran, kios pasar tutup permanen, dan para mantan pelayan toko kini beralih profesi menjadi penjual makanan kaki lima.

Fenomena ini bukan tanda bahwa ekonomi rakyat sedang tangguh. Ini adalah sinyal bahaya bahwa industrialisasi kita sedang sekarat.

Jebakan Romantisasi "Jadi Bos"

Banyak orang meromantisasi sektor informal dengan label keren: UMKM. Katanya, jualan gorengan itu artinya jadi "bos" bagi diri sendiri. Padahal, bagi mayoritas masyarakat, jualan makanan bukan pilihan aspiratif, melainkan strategi bertahan hidup (survival mode) karena tidak ada pilihan lain.

Nasibnya pun spekulatif. Hari ini ramai, besok sepi, lusa tutup karena modal habis terpakai untuk makan sehari-hari.

Ketika sektor informal membengkak tak terkendali sementara sektor riil (manufaktur) menciut, kita sedang menuju lubang gravitasi. Jika semua orang berjualan seblak dan jadi driver ojek online, lalu siapa yang memproduksi sepatu? Siapa yang menanam padi? Siapa yang mengolah baja?

Belajar dari Tetangga, Bukan Sekadar Narasi

Negara-negara yang benar-benar maju tidak mengandalkan margin tipis dari "Marimas sasetan" untuk menggerakkan ekonomi nasionalnya:

  • Jepang, Korea, & China: Tumbuh besar lewat industrialisasi massal dan penguasaan teknologi.

  • Vietnam & Malaysia: Bergerak progresif melalui manufaktur berorientasi ekspor.

  • Jerman: Kokoh dengan basis industri mesin dan teknologi tinggi.

Mereka menempatkan UMKM sebagai penyangga sosial, tapi tetap menjadikan industri sebagai mesin utama. Di sini? Kita justru memoles kegagalan menyediakan lapangan kerja dengan istilah-istilah manis agar kemiskinan terdengar seperti prestasi.

Sarjana yang Terbuang

Tragis melihat lulusan universitas yang seharusnya mengisi posisi strategis di industri, justru diminta "berwirausaha" tanpa dukungan permodalan dan ekosistem yang jelas. Ini adalah bentuk cuci tangan negara yang tidak becus memakmurkan rakyatnya.

Janji belasan juta lapangan kerja seolah menguap di tengah kepulan asap tukang martabak yang akhirnya bangkrut juga karena daya beli masyarakat yang hancur.

Ekonomi "orang miskin melayani orang miskin" ini bukan ekonomi yang tangguh, melainkan ekonomi yang rapuh. Tanpa industrialisasi yang nyata, narasi "Indonesia Emas 2045" tak lebih dari sekadar jargon kosong atau dalam bahasa yang lebih lugas: silit pitik.

Jangan heran jika kelas menengah yang waras mulai berpikir untuk angkat kaki ke negeri tetangga, mencari tempat di mana kerja keras mereka dihargai oleh sistem industri yang sehat, bukan sekadar dibiarkan liar di pinggir jalan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url