Hidup Rata-rata di Negeri yang Memuja Ekstrem
Saya tidak pernah peringkat satu.
Bukan dari depan, bukan juga dari belakang.
Saya selalu di tengah posisi yang dianggap tidak masalah, sehingga tidak pernah dianggap penting.
Sejak sekolah, kami diajari satu hal: hidup adalah lomba. Yang di atas dipamerkan, yang di bawah dikasih label “perlu dibina”. Sementara yang di tengah dibiarkan, diasumsikan akan baik-baik saja. Padahal, justru di sanalah kelelahan paling lama disimpan.
Saya tumbuh sebagai laki-laki generalis. Bisa banyak hal, tapi tak cukup tajam untuk diakui. Cukup patuh untuk bertahan, tapi tak cukup luar biasa untuk naik kelas. Di Indonesia, menjadi “cukup” adalah bentuk kegagalan yang sopan\ tidak dipermalukan, tapi juga tidak diselamatkan.
Ironinya, negeri ini berdiri di atas pundak orang-orang seperti kami. Peringkat tengah yang mengisi kantor, pabrik, dan jalanan. Yang bangun pagi, pulang malam, lalu disuruh bersyukur karena masih bisa hidup. Kami tidak pernah dipuja, kecuali saat diminta bekerja lebih keras demi “kemajuan bangsa”.
Di sini, negara hanya hadir untuk dua jenis manusia: yang terlalu miskin untuk diabaikan, dan yang terlalu kaya untuk disentuh. Sisanya yang rata-rata hidup di ruang tunggu permanen. Tidak cukup sengsara untuk ditolong, tidak cukup penting untuk dilindungi.
Menjadi laki-laki generalis di Indonesia berarti hidup tanpa keistimewaan struktural. Tidak punya koneksi, tidak punya spesialisasi, tidak punya panggung. Hanya punya ketahanan, yang sering disalahartikan sebagai keikhlasan.
Kami diajari bertahan, bukan bermimpi. Disuruh realistis, bukan kritis. Diminta sabar, seolah-olah kesabaran adalah solusi permanen bagi sistem yang malas berubah.
Dan begitulah hidup berjalan:
tanpa peringkat satu,
tanpa suara,
tanpa pilihan lain selain tetap kuat
karena di negeri ini, yang rata-rata memang tidak boleh runtuh.
