Akhirnya Dajjal Berhasil Membuat Manusia Takut Menikah Tapi Tidak Takut Berzina

 


Di sebuah ruang rapat berasap entah di dimensi mana, Dajjal mungkin sedang tersenyum puas melihat grafik Key Performance Indicator (KPI)-nya meroket tajam di abad ini. Tidak perlu lagi bersusah payah mengirim pasukan iblis kelas kakap untuk menyesatkan umat manusia. Cukup dengan menyentuh satu titik vital: standar sosial.


Misi terbesarnya sukses telak. Ia berhasil memutarbalikkan logika manusia modern hingga tiba di satu kesimpulan absurd: Menikah adalah extreme sport yang menakutkan, sementara berzina adalah lifestyle yang menenangkan.


Menikah: Teror Finansial dan Birokrasi Gengsi

Mari kita lihat bagaimana "prestasi" ini dicapai. Menikah, yang esensinya hanya butuh niat, sah secara agama, dan pencatatan negara, kini berhasil dicitrakan sebagai gerbang menuju kebangkrutan. Manusia modern telah menciptakan monster bernama "Apa Kata Orang" yang jauh lebih menyeramkan dari hantu mana pun.


Syarat sah menikah kini bukan lagi sekadar wali dan saksi, melainkan:


Foto Pre-wedding Estetik: Harus di lokasi eksotis, minimal seperti menyewa satu pulau atau kawah gunung berapi agar terlihat effort di Instagram.


Gedung Megah & Katering Mewah: Harus bisa memberi makan ribuan orang yang setengahnya mungkin tidak Anda kenal, dan yang sisanya akan tetap mengkritik rasa rendangnya kurang bumbu.


Mahar Sultan: Karena cinta saja tidak cukup untuk melunasi ekspektasi keluarga besar.


Jika ada pasangan yang berani memotong kompas dan menikah sederhana di KUA dengan biaya nol rupiah, bersiaplah menghadapi sidang pengadilan jalanan. “Ih, kok sepi banget? Jangan-jangan udah tekdung duluan?” atau “Kasian ya perempuannya, dapet laki pelit.”


Tekanan inilah yang membuat generasi sekarang gemetar ketika mendengar kata pernikahan. Bukannya takut pada tanggung jawab, mereka lebih takut pada tagihan utang pasca-resepsi yang cicilannya baru lunas saat anak pertama masuk SD.


Zina: Rebranding Sukses Berkedok Modernitas

Di sisi lain, departemen marketing dunia bawah tanah sukses besar melakukan rebranding pada konsep zina. Istilahnya diperhalus sedemikian rupa agar terdengar akademis, trendi, dan kebarat-baratan.


Sekarang kita tidak menyebutnya berzina. Kita menyebutnya Friends with Benefits (FWB), Situationship, Open Relationship, atau sekadar "Healing bareng ke Bali".


Prosedurnya sangat memanjakan user experience (UX). Sangat praktis. Bebas birokrasi KUA, tidak butuh fotokopi KTP dan KK, tidak perlu restu mertua yang meminta sertifikat rumah, dan yang paling penting: tidak ada tetangga yang protes kalau acaranya tidak pakai pelaminan. Cukup bermodalkan aplikasi kencan, swipe right, chat basa-basi, lalu check-in.


Dosa besar kini terasa seperti langganan streaming film: gampang diakses, murah, dan bisa di-cancel kapan saja tanpa ikatan emosional.


Komedi Putar Masyarakat Modern

Kita akhirnya tiba di puncak krisis komedi. Masyarakat kita lebih toleran melihat pasangan muda-mudi yang menginap berdua di vila tiap akhir pekan tanpa status yang jelas, dibandingkan melihat pasangan sah yang mengontrak di petakan kecil karena baru merintis rumah tangga.


Zina divalidasi sebagai bentuk "pencarian jati diri" dan "kebebasan berekspresi". Sementara pernikahan dilabeli sebagai "pengekangan", "beban", dan "kuburan bagi masa muda".


Melihat fenomena ini, Dajjal mungkin sudah bisa mengajukan pensiun dini. Effort-nya tidak perlu besar lagi. Ia tidak perlu capek-capek membisikkan niat jahat ke telinga manusia. Cukup biarkan manusia ditelan oleh standar sosial ciptaannya sendiri, di mana yang halal dipersulit dengan gengsi, dan yang haram dipermudah dengan dalih privasi.


Selamat datang di era modern. Era di mana manusia lebih takut pada omongan tetangga daripada ancaman neraka.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url