Kenapa Orang tidak Mau Makan Berkat dari Orang yang Meninggal: Adab Makan di Kenduri dan Kehati-hatian terhadap Harta Anak Yatim menurut pemikiran Gus Baha
Dalam sebuah pengajian yang membahas tafsir Al-Qur'an, khususnya pada Surat Az-Zumar, sosok ulama panutan sea yakni Gus Baha, memberikan penjelasan menarik terkait adab ketika menghadiri acara tahlilan, terutama yang berkaitan dengan keluarga yang baru saja ditinggal wafat oleh ayahnya.
Beliau mengawali dengan mengutip firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala."
(QS. An-Nisa: 10)
Tradisi Tahlilan dan Potensi Masalah
Dalam masyarakat kita, ketika ada seseorang wafat, khususnya seorang ayah yang meninggalkan anak yatim, biasanya diadakan tahlilan. Dalam acara tersebut, para tamu sering disuguhi makanan, bahkan terkadang diberikan amplop kepada para kiai atau tamu tertentu.
Fenomena ini oleh Gus Baha disebut sebagai “marung alus”, yaitu seperti makan di warung, tetapi dengan cara yang halus dan tidak terasa sebagai transaksi.
Di sinilah muncul dilema:
- Jika tidak ikut makan, dikhawatirkan menyakiti hati tuan rumah
- Jika ikut makan, ada kemungkinan makanan tersebut berasal dari harta anak yatim
Solusi Bijak: Mengganti dengan Sedekah
Gus Baha menjelaskan solusi yang sangat praktis dan penuh kehati-hatian.
Anggap saja kita sedang makan di warung. Misalnya:
- Sekali makan setara Rp25.000–Rp50.000
- Dalam beberapa hari totalnya sekitar Rp250.000
Maka ketika memberikan amplop saat takziah, hendaknya jumlahnya melebihi nilai makanan yang kita konsumsi, misalnya Rp400.000.
Dengan cara ini:
- Kita tetap menghormati tuan rumah dengan menerima suguhan
- Kita tidak termasuk memakan harta anak yatim, karena telah menggantinya dengan sedekah
Pentingnya Keseimbangan Sikap
Gus Baha juga mengingatkan bahwa:
- Bersikap “sok suci” dengan menolak makan tidak selalu benar
- Namun, makan tanpa memberi kontribusi juga sangat berbahaya
Idealnya adalah menggabungkan adab sosial dan kehati-hatian syariat.
Tradisi Walisongo yang menganjurkan membawa beras atau amplop saat takziah adalah bentuk kearifan yang sangat tepat. Hal ini bertujuan agar kita tidak termasuk orang yang justru “menikmati musibah orang lain”.
Refleksi: Hati-Hati dengan Dosa yang Tidak Disadari
Pesan penting dari ngaji ini adalah bahwa siapa pun, termasuk kiai, tetap memiliki potensi melakukan dosa besar jika tidak berhati-hati.
Memakan harta anak yatim bukan perkara sepele. Bahkan dalam Al-Qur’an diibaratkan seperti memakan api neraka.
Karena itu, dalam setiap tindakan sosial termasuk hal sederhana seperti makan di acara tahlilan diperlukan:
- Kepekaan
- Kehati-hatian
- Tanggung jawab moral


Mantappp