Katanya Boros. Ternyata Harga Hidup yang Mahal
Dulu, waktu umur 21 tahun dan masih berdarah-darah belajar coding sekaligus freelancing, sea punya satu bayangan sederhana:
“Nanti kalau udah dapet gaji Rp15–20 juta di tech, hidup sea pasti udah mapan. Tenang. Bisa nabung. Bisa investasi agresif.”
Ternyata tidak semudah itu, Fergusso. 😭
Sea sudah merasakannya sendiri.
Suatu ketika, sea pernah kena semacam gaslighting dari teman.
“Boros banget kamu, wok. Hedon mulu sih.”
Konteksnya waktu itu ada teman yang mau ngutang.
Sea jawab:
“Kaga ada duid.”
Masalahnya, menurut dia, gaji sea sudah tergolong besar.
Asli, bro.
Kaga ada. 🫠
Akhirnya sea juga mikir:
“Emang sea seboros itu?”
Sea mulai sering cek mutasi rekening. Coba telusuri satu per satu, sebenarnya duit sea larinya ke mana.
Dan ternyata jawabannya agak menyebalkan.
Sea gak pernah makan di restoran mahal.
Jarang banget nongkrong di tempat mahal atau ikut skena yang harus keluar duit banyak.
Makanan harian sea juga sederhana banget:
Nasi pecel
Kopi
Sayur
Telur rebus
Langganan AI
Udah.
Tapi dalam sehari, pengeluaran sea bisa mencapai Rp110–130 ribu.
Kalau dikali sebulan, tembus sekitar Rp4,8–5,5 juta.
Cuma untuk urusan perut.
Dari gaji belasan juta, hampir 40% penghasilan sea habis untuk satu hal:
Madang. 😭
Supaya tetap hidup dan bisa lanjut ngerjain ticket Jira.
Awalnya sea pikir ini cuma masalah sea yang gak bisa budgeting.
Mungkin sea terlalu boros.
Mungkin sea kurang disiplin.
Mungkin sea terlalu banyak pengeluaran kecil yang gak terasa.
Tapi setelah sea coba cari tahu lebih jauh, ternyata persoalannya bisa jauh lebih besar daripada sekadar:
“Lu boros.”
Ada konsep ekonomi yang namanya Hukum Engel (Engel's Law).
Sederhananya, hukum ini menjelaskan bahwa ketika daya beli seseorang semakin tertekan, porsi pendapatannya yang harus dialokasikan untuk kebutuhan dasar seperti makanan cenderung semakin besar.
Dan di titik ini sea mulai sadar:
Mungkin masalahnya bukan cuma sea yang boros.
Bisa jadi memang biaya untuk hidup semakin mahal.
Karena coba lihat lagi pengeluaran sea.
Nasi pecel.
Telur.
Sayur.
Kopi.
Bahkan AI yang sea gunakan untuk membantu kerja.
Bukan steak.
Bukan sushi omakase.
Bukan fine dining.
Bukan juga nongkrong tiap malam di SCBD.
Tapi tetap saja, angka di rekening terus berkurang.
Dan di sinilah menurut sea kita sering terjebak dalam satu kesalahan berpikir.
Ketika seseorang belum bisa menabung, kita buru-buru bilang:
“Makanya jangan boros.”
Ketika seseorang gajinya naik tapi tetap merasa pas-pasan:
“Lifestyle lu yang naik.”
Ketika seseorang masih belum punya investasi:
“Harusnya belajar financial planning.”
Semua nasihat itu mungkin benar.
Tapi ada satu pertanyaan yang sering kita lupa:
Bagaimana kalau biaya untuk sekadar hidup memang sudah semakin mahal?
Apa ini efek MBG yang jelek?
Oh, mungkin aja. 😭
Tapi sea gak mau sok menyimpulkan bahwa semuanya disebabkan oleh satu kebijakan.
Ekonomi itu terlalu kompleks untuk disederhanakan menjadi satu kambing hitam.
Yang ingin sea soroti justru sesuatu yang lebih sederhana.
Jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri ketika budgeting terasa semakin berat.
Hemat tetap penting.
Financial planning tetap penting.
Investasi tetap penting.
Tapi kita juga harus mampu membedakan antara:
“Sea gak bisa mengatur uang.”
dan
“Memang semakin mahal untuk sekadar hidup.”
Karena dua hal itu berbeda.
Kalau hampir 40% penghasilan seseorang habis untuk kebutuhan makan sehari-hari, mungkin persoalannya bukan sekadar orang tersebut terlalu konsumtif.
Mungkin ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.
Dan ini yang kemudian bikin sea berpikir lebih jauh.
Kalau orang bergaji belasan juta saja bisa merasa berat hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar...
Bagaimana dengan orang yang gajinya dua juta lebih sedikit?
Bukan dua digit.
Bukan belasan juta.
Dua juta lebih dikit.
Mereka harus bayar kos.
Listrik.
Transportasi.
Internet.
Kebutuhan keluarga.
Dan tentu saja...
Makan.
Kalau sea dengan segala privilege yang ada masih bisa melihat angka Rp4–5 juta habis hanya untuk urusan perut, lalu bagaimana dengan mereka yang pendapatannya bahkan tidak sampai setengahnya?
Pertanyaan ini yang akhirnya membuat sea berhenti menyebut diri sendiri “boros.”
Mungkin sea memang masih perlu belajar mengatur uang.
Tentu.
Tapi mungkin ada hal lain yang juga perlu kita akui:
Harga hidup hari ini memang tidak murah.
Dan mungkin, sebelum kita menyuruh seseorang untuk lebih banyak menabung, berinvestasi, dan berhenti hedon...
Kita perlu bertanya lebih dulu:
Setelah semua kebutuhan dasar dibayar, memang masih tersisa berapa?
Karena ternyata...
menjadi kaya itu mungkin bukan cuma soal berapa besar gaji kita.
Tapi juga...
berapa banyak yang tersisa setelah kita selesai membayar harga untuk sekadar hidup.
