"Lingkaran Setan" Administrasi
Pernahkah Antum memperhatikan logika syarat melamar kerja belakangan ini? Jika dituliskan dalam alur proses, bentuknya akan terlihat seperti ini:
Mau daftar kerja > perlu SKCK.
Mau buat SKCK > perlu BPJS aktif.
Mau BPJS aktif > perlu bayar iuran.
Mau bayar iuran > perlu punya penghasilan (kerja).
Secara sekilas, ini tampak seperti urutan administrasi yang rapi dan terintegrasi. Namun, bagi mereka yang sedang berjuang di lapangan, ini bukan sekadar urutan ini adalah lingkaran yang melelahkan.
Tertib Administrasi vs Kemudahan Akses
Sebagai konsultan amatir dan dosen di kampus kabupaten yang sehari-hari bergelut dengan sistem dan efisiensi, sea belajar satu prinsip fundamental:
Sistem yang baik seharusnya memudahkan orang untuk masuk, bukan justru mempersulit mereka untuk memulai.
Kita sering mendesain kebijakan hanya dari satu sudut pandang: Keteraturan Data. Kita ingin semua serba tercatat, terlindungi, dan legal. Niatnya baik perlindungan sosial dan kepastian hukum adalah pilar penting.
Namun, pertanyaannya: Apakah desain kebijakan tersebut sudah mempertimbangkan realitas lapangan?
Bagi mereka yang sudah mapan, syarat-syarat ini mungkin hanya formalitas kecil. Tapi bagi pencari kerja pertama atau mereka yang sedang berada di titik terendah ekonomi, syarat administratif yang berlapis bisa menjadi hambatan psikologis dan finansial yang sangat berat.
Friction: Musuh Utama Pertumbuhan
Dalam dunia Digital Marketing dan Change Management, kita mengenal konsep Friction (gesekan). Semakin banyak langkah yang harus dilalui pengguna untuk mencapai tujuan, semakin besar kemungkinan mereka untuk menyerah (drop-off).
Di dunia bisnis, kita mati-matian membuat Customer Journey semulus mungkin agar konversi meningkat. Anehnya, dalam layanan publik atau sistem rekrutmen, kita seringkali justru menciptakan friction bagi kelompok yang paling rentan.
Tertib administrasi bisa berjalan beriringan dengan kemudahan akses. Kuncinya adalah kemauan para stakeholder untuk menciptakan proses yang seamless (tanpa sekat). Misalnya:
Membayar iuran BPJS yang tertunggak melalui skema potong gaji setelah diterima kerja.
Pemberian masa tenggang pemenuhan syarat administratif setelah kontrak kerja ditandatangani.
Teknologi ada untuk mempermudah, bukan untuk mengunci pintu bagi mereka yang ingin mengetuknya.
Lebih dari Sekadar Dokumen
Ini bukan sekadar isu birokrasi. Ini adalah isu akses dan inklusi.
Pekerjaan bukan hanya soal angka di rekening bank. Pekerjaan adalah pintu masuk menuju martabat, kemandirian, dan kontribusi seseorang terhadap masyarakat. Jika kita menutup pintu itu dengan rantai administrasi yang rumit, kita sedang menghambat potensi pertumbuhan bangsa ini.
Pertanyaan untuk Kita Semua
Jika Antum adalah seorang pembuat kebijakan, praktisi HR, atau pemimpin organisasi, sea mengajak Antum untuk merenung:
"Apakah sistem yang kita bangun saat ini membantu orang untuk bertumbuh... atau justru tanpa sadar membuat mereka terjebak dalam lingkaran tanpa ujung?"
Manakah yang menurut Antum lebih mendesak untuk diperbaiki saat ini: ketatnya ketertiban administrasi atau kemudahan akses awal bagi pencari kerja?