Horor 'Fogging' VVIP: Empati Tipis, Oleh-Oleh Sakit Tenggorokan Mengiris


Ada satu hukum tak tertulis setiap kali kita berkunjung ke rumah keluarga besar: kita harus siap dengan segala kejutan. Ekspektasinya biasanya sederhana; datang, ngobrol basa-basi, makan suguhan di toples, lalu numpang istirahat dengan tenang setelah perjalanan jauh. Tapi realitanya, kadang kunjungan keluarga lebih mirip simulasi uji kesabaran.

Dalam kunjungan ke keluarga dari pihak istri baru-baru ini, Sea belajar satu hal menarik. Ternyata, semakin jauh cabang silsilah keluarga seseorang katakanlah, sosok yang posisinya di pohon keluarga butuh tenaga ekstra untuk dilacak akarnya kadang semakin luar biasa pula rasa "berkuasa" atas ruang tamu.

Malam itu, setelah menempuh perjalanan yang lumayan menguras energi, yang ada di kepala tamu hanyalah kasur dan ketenangan. Jam sudah bergeser ke angka 12 malam. Di jam segitu, mayoritas manusia normal, apalagi tamu yang kelelahan, sedang mematikan sistem tubuhnya untuk merajut mimpi. Namun, sepertinya zona waktu ini tidak berlaku untuk satu "kerabat" jauh ini. 

Bagi beliau, tengah malam seolah menjadi prime time. Sebuah momen kontemplasi yang sayangnya harus dijemput dengan kepulan asap tanpa henti, sembari bermain playstation ditemani rokok win berry.

Sea selalu berusaha menghargai pilihan hidup orang lain, termasuk hobi menjadikan paru-paru sebagai cerobong asap. Tapi yang sering bikin Sea gagal paham adalah menguapnya spatial awareness alias kepekaan terhadap ruang dan situasi. Merokok di dalam rumah, saat tengah malam, di kala ada tamu yang sedang merebahkan diri di ruangan yang satu atap, dan membawa balita adalah tingkat kepedulian sosial yang patut dipertanyakan. 

Asap itu kan sifatnya ekspansif. Dia tidak punya tata krama untuk diam di satu sudut. Dia menyelinap lewat celah bawah pintu, menembus udara dingin, dan dengan tanpa permisi menyapa saluran pernapasan tamu yang sedang tak berdaya. Rasanya malam itu kami seperti sedang diikutsertakan dalam program fogging nyamuk demam berdarah, tapi versi indoor dan eksklusif. Bedanya, yang tumbang bukan nyamuk, melainkan kenyamanan bernapas kami.

Dan sebagai tamu yang katanya harus "menjaga harmoni", kita sering kali cuma bisa diam sambil menarik selimut lebih tinggi, berharap kain tipis itu punya teknologi filter N95. 

Hasilnya bisa ditebak. Pagi harinya, alih-alih bangun dengan perasaan segar bugar khas orang yang dijamu dengan baik, Sea bangun dengan tenggorokan yang rasanya habis dipakai menelan serbuk kaca. Kering, perih, dan radang. Sebuah oleh-oleh silaturahmi yang sama sekali tidak ada di dalam itinerary. 

Pada akhirnya, Sea benar-benar harus angkat topi atas "keramahan" level dewa ini. Terima kasih telah menyadarkan Sea bahwa di dunia ini, ada manusia yang anatomi paru-parunya mungkin terbuat dari knalpot racing, namun ironisnya, ruang empatinya jauh lebih sempit dari lubang jarum. Tenggorokan yang kini meradang perih ini adalah suvenir paling tak terlupakan yang pernah Sea bawa pulang dari sebuah kunjungan; jauh lebih melekat dan berbekas ketimbang sekotak jajanan pasar. Sungguh sebuah mahakarya keegoisan yang dieksekusi dengan sangat paripurna di bawah kedok "santai di rumah sendiri". Jika kelak takdir memutar dadu dan memaksa Sea kembali menginap di bawah radius pabrik asap berjalan tersebut, sepertinya Sea akan memilih tidur di halaman luar bersama pot tanaman. Karena setidaknya, deretan aglonema di teras masih tahu tata krama bagaimana menghasilkan oksigen, bukannya meracuni udara orang yang sedang lelah terlelap.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url