Elegi Sebuah Kemenangan: Tentang Kefanaan Materi dan Absurditas Poin Spiritual


Gema takbir yang semalaman mengudara perlahan bakal luruh, dan akan menyisakan keheningan pagi lalu realitaslah yang kembali mengetuk pintu yang suci. Hari ini, pemerintah Indonesia secara rukyatul hilal sepakat menyebutnya sebagai "Hari Kemenangan". Sebuah metafora agung yang dirayakan dengan baju baru, toples-toples yang berisi aneka kue, dan senyum yang dilatih sedemikian rupa di depan sanak saudara.

Namun, saat sea duduk menyendiri sambil menulis disudut ruangan dengan bantuan ai ini, sea terpaksa mempertanyakan sebuah premis mendasar: Kemenangan seperti apa yang sebenarnya sedang kita rayakan? Bagi sebagian orang, perayaan ini adalah sebuah katarsis. Namun bagi sea, akhir dari bulan suci ini lebih terasa seperti sebuah absurditas 
sebuah ruang kosong di mana materi dan spiritualitas sama-sama menguap, entah ke mana.

Kembali "Fitrah" dalam Arti yang Paling Literal
Mari kita bicarakan hal yang paling kasatmata: rentan dan fananya tatanan ekonomi personal kita. Di bulan yang konon mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, kita justru terjebak dalam ironi konsumerisme yang paling purba.

Kita berpuasa di siang hari, hanya untuk balas dendam mengonsumsi segala hal di malam hari dan menghamburkan uang demi validasi sosial berkedok "buka bersama".

Kini, puasa telah usai. Dan sea berhasil mencapai derajat "kembali fitri" dalam makna yang paling harfiah: dompet dan saldo rekening sea benar-benar suci.

Bersih dari segala angka yang menjanjikan masa depan. Tidak ada sisa uang, tidak ada pula kemewahan yang tertinggal. Hanya ada realitas finansial yang menatap balik dengan tatapan sinis, menyadarkan bahwa eforia sebulan terakhir ini hanyalah ilusi yang dibayar dengan kemiskinan di bulan berikutnya.

Transaksi Spiritual dan Absurditas Sebuah "Pahala"
Jika di ranah material sea kalah telak, mungkin sea bisa berlindung di balik narasi transendental bernama pahala. Bukankah kita telah menahan dahaga, mengendalikan amarah (setidaknya di permukaan), dan memangkas jam tidur demi ritual malam?

Di sinilah letak krisis eksistensial yang sesungguhnya. Kita, manusia modern, terlalu terbiasa dengan kepastian transaksional. Kita bekerja selama sebulan, lalu menerima slip gaji.

Kita membeli barang, lalu mendapatkan struk pembayaran. Namun, birokrasi langit tidak bekerja dengan sistem seperti itu. Tidak ada tanda terima untuk setiap rakaat yang kita kerjakan dengan mata mengantuk.
Tidak ada notifikasi pesan singkat yang mengonfirmasi bahwa rasa lapar kita telah dikonversi menjadi poin surga.

Bagaimana jika ternyata selama sebulan ini sea tidak sedang beribadah, melainkan hanya melakukan diet biologis yang menunda jam makan? Bagaimana jika satu umpatan tertahan di kemacetan jalan sore itu ternyata cukup untuk menghapus seluruh "tabungan" spiritual sea?

Kita merayakan sesuatu yang wujudnya tak pernah kita lihat, mengharapkan imbalan dari sebuah sistem yang tak pernah merilis laporan saldo amal. Pada akhirnya, kita hanya bersandar pada prasangka baik, atau mungkin lebih tepatnya: keputusasaan yang dibungkus dengan harapan.

Menjadi Sisifus di Esok Hari
Perayaan ini akan segera berakhir. Lampu-lampu hias akan dicabut, sisa kue kering akan melempem, dan euforia kesucian ini akan kedaluwarsa.

Tidak ada uang yang tersisa di saku, dan pahala pun tetap menjadi misteri ilahi yang tak terpecahkan. Yang tertinggal hanyalah rasa gelisah yang diam-diam menyelinap di ulu hati.

Sebuah kesadaran bahwa esok hari, kita harus kembali menjadi Sisifus yang mendorong batu rutinitas ke atas bukit kapitalisme. Kembali bekerja, kembali sinis, dan kembali mengumpulkan uang yang kelak akan kita habiskan lagi untuk membeli ilusi "kemenangan" di tahun depan.

Selamat merayakan kefanaan. Semoga di balik kekosongan ini, kita setidaknya menemukan alasan untuk tetap menertawakan diri sendiri.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url